Jakarta — Pemerintah memastikan sebanyak enam proyek hilirisasi yang dikelola Danantara akan memasuki tahap groundbreaking pada Januari 2026. Proyek-proyek tersebut menjadi bagian dari agenda strategis nasional untuk memperkuat ketahanan energi, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Informasi ini disampaikan dalam konferensi pers pemerintah yang digelar di Hambalang, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026). Pemerintah menegaskan bahwa hilirisasi tetap menjadi prioritas utama dalam kebijakan pembangunan ekonomi, khususnya di sektor energi dan industri berbasis sumber daya alam.
Hilirisasi dipandang sebagai langkah penting untuk mengubah pola ekonomi nasional yang selama ini bergantung pada ekspor bahan mentah. Melalui pembangunan industri pengolahan di dalam negeri, pemerintah menargetkan peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan struktur industri nasional.
Enam proyek yang akan memulai pembangunan fisik tersebut berada di bawah pengelolaan Danantara, entitas yang dibentuk untuk mendorong percepatan proyek-proyek strategis di sektor hilirisasi dan energi. Pemerintah berharap kehadiran proyek ini dapat menarik investasi lanjutan, baik dari dalam maupun luar negeri, serta mempercepat transfer teknologi.
Selain berdampak pada aspek ekonomi, proyek hilirisasi juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor produk olahan. Pemerintah menilai bahwa pengelolaan sumber daya alam harus memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian domestik, bukan hanya sebagai komoditas ekspor mentah.
Dengan dimulainya groundbreaking pada awal 2026, pemerintah menargetkan proyek-proyek hilirisasi ini dapat segera memasuki tahap konstruksi dan operasional secara bertahap. Ke depan, kebijakan hilirisasi akan terus diperluas sebagai fondasi transformasi ekonomi nasional menuju industri bernilai tambah tinggi.
