Jejak Keluarga di Bank Indonesia: Thomas Djiwandono Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI

Nama Thomas Djiwandono kembali menguat di ruang publik setelah DPR RI menyetujui penunjukannya sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Penunjukan ini bukan hanya soal posisi strategis di bank sentral, tetapi juga membawa kembali narasi lama tentang jejak keluarga dan kekuasaan di jantung kebijakan moneter Indonesia.

Thomas dikenal luas sebagai keponakan Presiden terpilih Prabowo Subianto. Namun, keterkaitannya dengan Bank Indonesia ternyata jauh lebih panjang dari sekadar hubungan politik kekinian. Lebih dari dua dekade lalu, ayah Thomas pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, menempatkan keluarga ini dalam lingkaran elite kebijakan moneter nasional sejak lama.

Kondisi ini membuat publik memberi perhatian ekstra.
Apakah penunjukan Thomas murni berbasis kapasitas dan rekam jejak, atau ada unsur kesinambungan kekuasaan yang kembali berulang?

Dari sisi kompetensi, Thomas bukan figur tanpa pengalaman. Ia memiliki latar belakang ekonomi dan keuangan, serta pernah aktif di pemerintahan dan kebijakan publik. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan utama yang dikemukakan dalam proses pemilihannya sebagai deputi gubernur BI.

Sebagai Deputi Gubernur, Thomas akan berperan penting dalam menjaga stabilitas nilai rupiah, mengendalikan inflasi, serta memastikan independensi kebijakan moneter di tengah tekanan global—mulai dari geopolitik, suku bunga internasional, hingga ketidakpastian ekonomi dunia.

Namun, penunjukan ini datang di momen yang sensitif. Transisi kekuasaan nasional tengah berlangsung, dan independensi Bank Indonesia kembali menjadi sorotan. Hubungan keluarga dengan lingkar kekuasaan politik menimbulkan pertanyaan wajar dari publik tentang jarak antara bank sentral dan kekuasaan eksekutif.

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai bahwa BI memiliki mekanisme institusional yang kuat untuk menjaga independensinya. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada pembuktian kinerja: apakah Thomas mampu berdiri sebagai teknokrat yang independen, bukan sekadar simbol politik atau warisan keluarga.

Kini, sejarah seperti berputar.
Jika dahulu sang ayah pernah memimpin Bank Indonesia, kini sang anak berada di kursi strategis berikutnya.

Di tengah fluktuasi rupiah dan dinamika ekonomi global, satu hal menjadi jelas:
semua mata tertuju pada Bank Indonesia—dan Thomas Djiwandono kini berada tepat di pusatnya.

Waktu, kebijakan, dan stabilitas rupiah akan menjadi penentu jawabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *